Menjadi guru yang digugu dan ditiru
Karya Tulis Ilmiah
Disusun pada tanggal  10 April 2012                           Prodi Pendidkan Kimia semester II

 

Oleh :

Nama : Ani Dewiratnasari

NIM: 1211208006

Fakultas Tarbiyah dan Keguruan

 

 

 

 

 

.

 

DIGUGU DA DITIRU

 

 

 

 

 

 

 

LEMBAR PERNYATAAN

Halaman ini berisi pernyataan yang sebenar-benarnya dari penulis jika karya tulis ini merupakan hasil karya sendiri, bukan hasil plagiat atau penjiplakan terhadap karya orang lain


LEMBAR PERSEMBAHAN

Karya Tulis ini penulis persembahkan untuk kedua orang tua penulis, sahabat, dan para pembaca lainnya umumnya. .

ABSTRAKSI

            Perjalanan dunia pendidikan tidak pernah terlepas dari peran seorang guru. Dalam pribahasa sunda dikatakan guru itu merupakan seseorang yang digugu dan ditiru. Uniknya yang menggugu dan meniru guru bukan hanya muridnya saja tetapi masyarakat sekitar juga ikut-ikutan latah. Di lingkungan  masyarakat guru masih memegang kasta tertinggi dalam struktur kemasyarakatan non formal sehingga guru kerap menjadi public figure. Karena itulah, kepribadian guru harus benar-benar dijaga. Menjadi guru yang baik adalah menjadi guru yang dapat dirindukan oleh siapa saja kehadirannya, digugu dan ditiru terutama oleh siswanya. Karena awal dari pembelajaran yang baik adalah pembelajaran yang diawali oleh perasaan cinta, khususnya terhadap gurunya.

 

 

 

 

KATA PENGANTAR

 

Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamualaikum Wr. Wb.

Segala puji dan syukur bagi Allah Swt. yang telah melimpahkan potensi lahiriah (fitrah) pada manusia pada umumnya dan pada penulis pada khususnya yang meliputi potensi beriman, bertakwa, beramal, berilmu dan berihsan sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini sesuai dengan harapan. Shalawat dan salam semoga tercurah limpahkan kepada The Leader of Moeslim, Muhammad Saw., kepada keluarganya sahabatnya dan kepada umatnya sampai akhir zaman.

“Carilah ilmu sampai negeri Cina” kata-kata tersebut sangatlah sering kita dengar. Tetapi jangan sampai disalahartikan bahwa kita hanya harus belajar ke negeri Cina saja. Melainkan definisi sebenarnya adalah mengenai pembelajaran yang harus terus dikejar walau jauh dari tempat tinggal. Permasalahannya adalah kepada siapa kita mencari ilmu? Secara awam, dapat kita katakan jika siapa saja yang memberikan ilmu pengetahuan dapat dikatakan sebagai guru. Guru di masa lalu berbeda sekali dengan  guru dimasa sekarang. Guru di masa lalu lebih mempunyai kharisma dalam dirinya dibandingkan guru sekarang yang kebanyakan berorientasi kepada keinginan untuk memperkaya diri sendiri.

Lalu seharusnya guru itu seperti apa? Guru yang baik adalah guru yang dirindu, yang digugu dan ditiru oleh siswa-siswanya. Peran inilah yang kadang terlupakan dan kadang terjadi akibat kesalahan guru itu sendiri sehingga guru kehilangan tiga fungsi dasarnya itu. Lewat Karya Tulis Ilmiah ini akan dibahas beragam hal yang dapat meningkatkan nilai guru dan etika apa saja yang harus dimiliki oleh seorang guru. Jadilah guru yang dirindu, digugu dan ditiru.

Dalam kesempatan ini penyusun ingin mengucapkan terima kasih bagi pihak-pihak yang telah membantu penyusun dalam penyusunan Karya Tulis ini. Penulis mengucapkan terima kasih kepada:

 

1.      Allah SWT yang telah memberikan taufik, rahmat, hidayah dan inayahnya kepada penyusun sehingga penyusun dapat menyelesaikan Karya Tulis ini tepat pada waktunya.

2.      Kedua Orang Tua penulis yang telah memberikan dukungan baik moril maupun materil serta yang telah memberikan gagasannya secara tidak langsung kepada penulis.

3.      Rofa yulia azhar sebagai kakak dari penyusun yang selalu membantu penulis dalam pembuatan Karya Tulis ini serta tak lupa juga kepada Denia Novianti, FithriyahEuis Hasanah Handini Nurpratamidan teman-teman lainnya yang sering memotivasi penyusun lewat komentar yang sering penyusun buat.

4.      Dan semua pihak yang telah membantu penyusun dimulai dari penjaga perpustakaan, penjaga warnet, tukang fotokopi, serta pihak-pihak lainnya yang telah membantu penyusun yang tidak mungkin penyusun sebutkan satu-persatu.

Gajah mati meninggalkan gading, Harimau mati meninggalkan belang. Itulah pribahasa yang kiranya dapat mewakili harapan penulis dalam makalah ini. Secercah harapan yang penyusun siratkan dalam Karya Tulis ini adalah semoga Karya Tulis ini dapat berguna bagi semua pihak, manjadi amal baik bagi penyusun, menjadi motivator bagi mahasiswa lainnya untuk menyusun Karya Tulis yang lebih baik lagi serta semoga menjadi buah yang manis kelak.

Tidak ada gading yang tak retak, begitu pula dengan karya yang penulis buat ini. Maka dari itu penulis menantikan saran dan kritik yang membangun dari semua pihak agar penulis dapat mengoreksi kesalahan tersebut dan sebagai bahan pembelajaran bagi penulis dimasa yang akan datang.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

 

 

 

                                                                                   

                                                                                                            Bandung, 10 April 2012

 

 

                                                                       

                                                                                                             Penulis

DAFTAR ISI

 

LEMBAR PERNYATAAN

LEMBAR PERSEMBAHAN

ABSTRAKSI

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang Masalah

B.    Rumusan Masalah

C.    Batasan Masalah

D.   Tujuan Penelitian

E.    Metode Penelitian

F.    Landasan Teori

BAB II ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

BAB III PENUTUP

A. Simpulan

B. Saran

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

 

 

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

Terdapat empat aliran pendidikan yang sudah popular, yaitu nativisme, empirisme, naturalisme dan konvergensi. Nativisme yang dipelopori Schopenhauer berpendapat bahwa bayi terlahir sudah dengan pembawaan sifat baik dan buruk. Empirisme melalui John Locke (1704-1832) menyatakan bahwa pembentukan kepribadian manusia sangat ditentukan oleh rangsangan dari lingkungan luar. Naturalisme yang dimunculkan oleh J.J. Rousseau (1712-1778) menyatakan bahwa semua anak yang baru dilahirkan mempunyai pembawaan buruk. Dan Konvergensi yang dipelopori William Stern menyebutkan bahwa keberhasilan pendidikan sangat tergantung dari pembawaan dan lingkungan.

Lalu siapakah yang benar? Terlepas dari itu semua ada satu tokoh lagi yang bernama Ghazali dengan pemikiran-pemikirannya yang berlandaskan Al-Quran dan Al-Hadist yang sangat fenomenal. Beliau menjelaskan tentang konsep fitrahyang dikenal dengan sebutan al-Nafs al-Rabbâniyyah.. Manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah atau suci tidak berarti kosong melainkan memiliki potensi. Fitrah merupakan potensi yang terdiri dari lima jenis yaitu potensi berilmu, potensi  beramal, potensi berislam, potensi bertakwa dan potensi berihsan. Pandangan beliau dipengaruhi oleh paham tasawuf. Ghazali menekankan teorinya pada konsep kepribadian Muthmainnah. Kepribadian Muthmainah yang mengantarkan manusia pada eksistensi sebenarnya sebagai hamba Allah.Pandangan Al-Ghazali tentang pendidikan lebih cenderung pada pendidikan moral dengan pembinaan budi pekerti dan penanaman sifat-sifat keutamaan pada anak didik.

 

B.     Rumusan Masalah

Rumusan masalah yang akan dibahas dalam Karya Tulis ini adalah:

a.   Apa saja peran guru dalam dunia pendidikan?

b.   Bagaimana kepribadian guru seharusnya agar menjadi guru yang dirindu, digugu dan ditiru oleh murid-muridnya?

 

 

C.    Batasan Masalah

Karya Tulis ini membatasi ruang lingkup masalah yang akan dikaji meliputi:

a.      Pembahasan teori-teori kepribadian guru berdasarkan Ghazali dan Maslow

b.      Pembahasan etika guru menurut sudut pandang agama islam

 

D.    Tujuan Penelitian

v Menganalisa kpribadian guru yang sesuai dengan peran yang diemban oleh guru

v Menjelaskan etika yang harus dipenuhi seorang guru sebagai pendidik.

 

E.     Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penyusunan karya tulis ini berupa metode studi pustaka yang dilakukan terhadap beberapa artikel dan buku yang menunjang judul dari Karya Tulis Ilmiah ini.

 

F.     Landasan Teori

Dalam bahasa Arab istilah yang mengacu kepada pengertian guru, yaitu; al-Alim (jamaknya ulama) atau al-Mu’allim, yang berarti orang yang mengetahui dan banyak digunakan para ulama/ahli pendidikan untuk menunjuk pada hati guru. Selain itu, adalah al-Mudarris (untuk arti orang yang mengajar atau orang yang memberi pelajaran) dan al-Muaddib (yang merujuk kepada guru yang secara khusus mengajar di istana) serta al-Ustadz(untuk menunjuk kepada guru yang mengajar bidang pengetahuan agama Islam, dan sebutan ini hanya dipakai oleh masyarakat Indonesia dan Malaysia).[1]

Efektivitas dan efisiensi belajar individu di sekolah sangat bergantung kepada peran guru. Abin Syamsuddin (2003) mengemukakan bahwa dalam pengertian pendidikan secara luas, seorang guru yang ideal seyogyanya dapat berperan sebagai :

1.      Konservator (pemelihara) sistem nilai yang merupakan sumber norma kedewasaan;

2.      Inovator (pengembang) sistem nilai ilmu pengetahuan;

3.      Transmitor (penerus) sistem-sistem nilai tersebut kepada peserta didik;

4.      Transformator (penterjemah) sistem-sistem nilai tersebut melalui penjelmaan dalam pribadinya dan perilakunya, dalam proses interaksi dengan sasaran didik;

5.      Organisator (penyelenggara) terciptanya proses edukatif yang dapat dipertanggungjawabkan, baik secara formal (kepada pihak yang mengangkat dan menugaskannya) maupun secara moral (kepada sasaran didik, serta Tuhan yang menciptakannya).

 

Sedangkan dalam pengertian pendidikan yang terbatas, Abin Syamsuddin dengan mengutip pemikiran Gage dan Berliner, mengemukakan peran guru dalam proses pembelajaran peserta didik, yang mencakup :

1.      Guru sebagai perencana (planner) yang harus mempersiapkan apa yang akan dilakukan di dalam proses belajar mengajar (pre-teaching problems).;

2.      Guru sebagai pelaksana (organizer), yang harus dapat menciptakan situasi, memimpin, merangsang, menggerakkan, dan mengarahkan kegiatan belajar mengajar sesuai dengan rencana, di mana ia bertindak sebagai orang sumber (resource person), konsultan kepemimpinan yang bijaksana dalam arti demokratik & humanistik (manusiawi) selama proses berlangsung (during teaching problems).

3.      Guru sebagai penilai (evaluator) yang harus mengumpulkan, menganalisa, menafsirkan dan akhirnya harus memberikan pertimbangan (judgement), atas tingkat keberhasilan proses pembelajaran, berdasarkan kriteria yang ditetapkan, baik mengenai aspek keefektifan prosesnya maupun kualifikasi produknya.

Selanjutnya, dalam konteks proses belajar mengajar di Indonesia, Abin Syamsuddin menambahkan satu peran lagi yaitu sebagai pembimbing (teacher counsel), di mana guru dituntut untuk mampu mengidentifikasi peserta didik yang diduga mengalami kesulitan dalam belajar, melakukan diagnosa, prognosa, dan kalau masih dalam batas kewenangannya, harus membantu pemecahannya (remedial teaching).

Di lain pihak, Moh. Surya (1997) mengemukakan tentang peranan guru di sekolah, keluarga dan masyarakat. Di sekolah, guru berperan sebagai perancang pembelajaran, pengelola pembelajaran, penilai hasil pembelajaran peserta didik, pengarah pembelajaran dan pembimbing peserta didik. Sedangkan dalam keluarga, guru berperan sebagai pendidik dalam keluarga (family educator). Sementara itu di masyarakat, guru berperan sebagai pembina masyarakat (social developer), penemu masyarakat (social inovator), dan agen masyarakat (social agent).

Lebih jauh, dikemukakan pula tentang peranan guru yang berhubungan dengan aktivitas pengajaran dan administrasi pendidikan, diri pribadi (self oriented), dan dari sudut pandang psikologis.

Dalam hubungannya dengan aktivitas pembelajaran dan administrasi pendidikan, guru berperan sebagai :

1.      Pengambil inisiatif, pengarah, dan penilai pendidikan;

2.      Wakil masyarakat di sekolah, artinya guru berperan sebagai pembawa suara dan kepentingan masyarakat dalam pendidikan;

3.      Seorang pakar dalam bidangnya, yaitu menguasai bahan yang harus diajarkannya;

4.      Penegak disiplin, yaitu guru harus menjaga agar para peserta didik melaksanakan disiplin;

5.      Pelaksana administrasi pendidikan, yaitu guru bertanggung jawab agar pendidikan dapat berlangsung dengan baik;

6.      Pemimpin generasi muda, artinya guru bertanggung jawab untuk mengarahkan perkembangan peserta didik sebagai generasi muda yang akan menjadi pewaris masa depan; dan

7.      Penterjemah kepada masyarakat, yaitu guru berperan untuk menyampaikan berbagai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi kepada masyarakat.

 

Di pandang dari segi diri-pribadinya (self oriented), seorang guru berperan sebagai :

1.      Pekerja sosial (social worker), yaitu seorang yang harus memberikan pelayanan kepada masyarakat;

2.      Pelajar dan ilmuwan, yaitu seorang yang harus senantiasa belajar secara terus menerus untuk mengembangkan penguasaan keilmuannya;

3.      Orang tua, artinya guru adalah wakil orang tua peserta didik bagi setiap peserta didik di sekolah;

4.      model keteladanan, artinya guru adalah model perilaku yang harus dicontoh oleh mpara peserta didik; dan

5.      Pemberi keselamatan bagi setiap peserta didik. Peserta didik diharapkan akan merasa aman berada dalam didikan gurunya.

 

Dari sudut pandang secara psikologis, guru berperan sebagai :

1.      Pakar psikologi pendidikan, artinya guru merupakan seorang yang memahami psikologi pendidikan dan mampu mengamalkannya dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik;

2.      Seniman dalam hubungan antar manusia (artist in human relations), artinya guru adalah orang yang memiliki kemampuan menciptakan suasana hubungan antar manusia, khususnya dengan para peserta didik sehingga dapat mencapai tujuan pendidikan;

3.      Pembentuk kelompok (group builder), yaitu mampu mambentuk menciptakan kelompok dan aktivitasnya sebagai cara untuk mencapai tujuan pendidikan;

4.      Catalyc agent atau inovator, yaitu guru merupakan orang yang yang mampu menciptakan suatu pembaharuan bagi membuat suatu hal yang baik; dan

5.      Petugas kesehatan mental (mental hygiene worker), artinya guru bertanggung jawab bagi terciptanya kesehatan mental para peserta didik.

 

Sementara itu, Doyle sebagaimana dikutip oleh Sudarwan Danim (2002) mengemukan dua peran utama guru dalam pembelajaran yaitu menciptakan keteraturan (establishing order) dan memfasilitasi proses belajar (facilitating learning). Yang dimaksud keteraturan di sini mencakup hal-hal yang terkait langsung atau tidak langsung dengan proses pembelajaran, seperti : tata letak tempat duduk, disiplin peserta didik di kelas, interaksi peserta didik dengan sesamanya, interaksi peserta didik dengan guru, jam masuk dan keluar untuk setiap sesi mata pelajaran, pengelolaan sumber belajar, pengelolaan bahan belajar, prosedur dan sistem yang mendukung proses pembelajaran, lingkungan belajar, dan lain-lain.

Sejalan dengan tantangan kehidupan global, peran dan tanggung jawab guru pada masa mendatang akan semakin kompleks, sehingga menuntut guru untuk senantiasa melakukan berbagai peningkatan dan penyesuaian kemampuan profesionalnya. Guru harus harus lebih dinamis dan kreatif dalam mengembangkan proses pembelajaran peserta didik. Guru di masa mendatang tidak lagi menjadi satu-satunya orang yang paling well informed terhadap berbagai informasi dan pengetahuan yang sedang tumbuh, berkembang, berinteraksi dengan manusia di jagat raya ini. Di masa depan, guru bukan satu-satunya orang yang lebih pandai di tengah-tengah peserta didiknya.

Jika guru tidak memahami mekanisme dan pola penyebaran informasi yang demikian cepat, ia akan terpuruk secara profesional. Kalau hal ini terjadi, ia akan kehilangan kepercayaan baik dari peserta didik, orang tua maupun masyarakat. Untuk menghadapi tantangan profesionalitas tersebut, guru perlu berfikir secara antisipatif dan proaktif. Artinya, guru harus melakukan pembaruan ilmu dan pengetahuan yang dimilikinya secara terus menerus. Disamping itu, guru masa depan harus paham penelitian guna mendukung terhadap efektivitas pengajaran yang dilaksanakannya, sehingga dengan dukungan hasil penelitiaan guru tidak terjebak pada praktek pengajaran yang menurut asumsi mereka sudah efektif, namum kenyataannya justru mematikan kreativitas para peserta didiknya. Begitu juga, dengan dukungan hasil penelitian yang mutakhir memungkinkan guru untuk melakukan pengajaran yang bervariasi dari tahun ke tahun, disesuaikan dengan konteks perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sedang berlangsung.

Berdasarkan tinjauan teori di atas maka diperlukan suatu pengembangan kepribadian guru yang mampu menjalankan peran-peran di atas dengan sebaik-baiknya.[2]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II
ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

 

“Sesungguhnya hasil ilmu itu ialah mendekatkan diri kepada Allah, Tuhan semesta alam, menghubungkan diri dengan ketinggian malaikat dan berhampiran dengan malaikat tinggi.” (Imam Al-Ghazali)

 

A.  Bagaimana Seharusnya Guru Itu?

Saat ini, kebanyakan guru hanya menjadi pengajar, yaitu mengajarkan pelajaran kepada para siswa.Guru hanya mentransfer atau memindahkan pengetahuan dalam pikiran dan buku untuk ditiru sehingga dikuasai siswanya. Akibatnya, gurupun hanya berorientasi untuk menyampaikan materi pelajaran. Tidak lebih dari itu. Memperhatikan kondisi demikian, para guru lebih berkeinginan untuk menjadi pengajar daripada pendidik.

Memang menjadi pengajar itu mudah. Sangat mudah. KBBI (2008:23) mendefinisikan mengajar sebagai kegiatan memberi pelajaran. Kata mengajar berasal dari kata ”ajar” yang berarti petunjuk yang diberikan kepada orang supaya diketahui atau dituruti. Jika makna mengajar hanya demikian, tentu kondisi ini sangat berbahaya. Guru tidak lagi memperhatikan aspek-aspek humanisme para siswanya. Karena hanya bertujuan menyampaikan pelajaran, guru hanya mengejar ketercapaian kurikulum. Jika semua isi kurikulum sudah disampaikan, gurupun beranggapan bahwa tugasnya sudah selesai.

 

Tugas terberat guru adalah menjadi pelatih akhlak dan kecerdasan. Akhlak itu melekat pada diri seseorang. Akhlak tercermin dari perilaku keseharian. Karena menjadi pelatih, semua perilaku guru merupakan cerminan penguasaan pelajaran yang dibungkus dengan kesantunan sikap, hati dan pikirannya. Itulah wujud pikiran cerdas seorang guru. Jika sikap itu dimiliki 1% guru Indonesia, bangsa ini akan menjadi bangsa maju sebagai pesaing utama bangsa maju dunia.[3]

Seorang guru adalah orang yang menempati status yang mulia di daratan bumi, ia meniddik jiwa, hati, akal dan roh manusia. Sedangkan jiwa manusia adalah unsur yang paling mulia pada bagian tubuh manusia dan manusia adalah makhluk yang paling mulia di dunia ini dibandingkan dengan makhluk lainnya.

 

 

B. Sifat-Sifat Guru yang Dirindukan

Berdasarkan peran guru yang telah diuraikan pada dasar teori, maka guru harus memiliki sifat-sifat yang dirindukan oleh murid-muridnya sehingga pada akhirnya guru itu akan digugu dan ditiru. Berikut ini dijelaskan sifat-sifat guru yang dirindu oleh murid-muridnya:

a.       Guru hendaknya mencintai muridnya bagaikan anaknya sendiri. Pengarahan kasih sayang kepada murid mengandung makna dan tujuan perbaikan hubungan pergaulan dengan anak-anak didiknya, dan mendorong mereka untuk mencintai pelajaran, guru, dan sekolah dengan tanpa berlaku kasar terhadap mereka. Dengan dasar ini maka hubungan pergaulan antara guru dan murid menjadi baik dan intim yang didasari atas rasa kasih sayang dan cinta serta kehalusan budi.

b.       Guru hendaknya bekerja jangan mencari bayaran dari pekerjaan mengajarkan dengan alasan bahwa pekerjaan mengajar itu lebih tinggi harganya dari pada harta benda, cukuplah kiranya guru mendapatkan kebaikan (fathilah) dan pengakuan tentang kemampuannya menunjukkan orang kepada jalan kebenaran dan hak, kebaikan dan ilmu pengetahuan, dan yang lebih utama lagi ialah guru dengan menunjukkan jalan yang hak kepada orang lain.

c.        Guru hendaknya selalu menasehati muridnya agar menuntut ilmu yang bermanfaat dan memberikan nasihat-nasihat lainnya yang bersifat pribadi dan mendidik.

d.       Seorang guru idola (taladan) yang baik dan contoh yang utama yang harus ditiru oleh anak-anak (mereka menyerap kebiasaan yang baik yang dikembangkan oleh seorang guru idola). Mereka senang mencontoh sifat-sifat dan meniru segala tindak-tanduk guru yang diidolakan. Oleh sebab itu seorang guru wajib berjiwa lembut yang penuh dengan tasammuh (lapang dada) penuh keutamaan, dan terpuji.

e.        Memperhatikan bakat-kemampuan murid tingkat perkembangan akal dan pertumbuhan jasmaniahnya dan guru harus memperhatikan perbedaan-perbedaan individual anak (murid).

f.         Faktanya, guru yang humoris lebih disukai daripada guru yang terkesan serius. Tapi dampak dari kehumorisan yang berlebihan akan membuat seorang guru kehilangan kewibawaan. Sebaiknya seorang guru tetap serius tapi terkesan ramah. Atau humoris yang tidak berlebihan.

g.       Guru hendaknya mampu mengamalkan ilmunya, agar ucapannya tidak mendustai perbuatannya. Guru idola adalah guru yang karena ucapan-ucapan yang sesuai dengan prilakunya. Jika guru berpaling dari ucapannya maka akan menjadi sumber kerendahan.

h.       Guru hendaknyamenjadi contoh teladan yang baik bagi murid-muridnya. Jika kita amati kenyataan masa kini bahwa sistem pendidikan tidak akan mengalami kerusakan disekolah-sekolah kita, kecuali jika para guru tidak melakukan apa yang mereka katakan, sehingga murid-muridnya tidak mendapatkan seseorang guru pun di antara mereka tokoh teladan dan ikutan baik yang diteladani sebagai idola mereka. Dalam kaitan ini firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat yang tegas menyatakan sebagai berikut :

tbrâßDùs?r&}¨$¨Y9$#ÎhŽÉ9ø9$$Î/tböq|¡Ys?uröNä3|¡àÿRr&öNçFRr&urtbqè=÷Gs?|=»tGÅ3ø9$#4Ÿxsùr&tbqè=É)÷ès?ÇÍÍÈ

“Apakah kamu memerintah manusia dngan perbuatan baik sedang kamu lupa terhadap dirimu sendiri.” (Al-Baqarah, 44).

Disamping itu mereka melupakan arti syair yang mengatakan :

“Janganlah engkau melarang orang lain berbuat akhlak jelek sedangkan kamu sendiri melakukannya.”

i.         Mempelajari hidup psikologis murid-muridnya agar keragu-raguan antara guru dan murid-murid lenyap, dan mereka dapat bergaul akrab, serta menghilangkan gangguan-gangguan yang menghalangi hubungan mereka dengan murid-muridnya.

j.         Guru hendaknya selalu berpenampilan rapi, sopan dan santun suasai dengan tuntutan agama dan norma yang berlaku.

k.      Guru hendaknya tidak melupakan janji yang telah diucapkan.

l.         Guru hendaknya selalu berbuat adil dan memperlakukan sama rata semua siswanya.

 

C.  Persyaratan kepribadian pendidik

a.       Sabar menerima masalah masalah-masalah yang ditanyakan murid dan harus diterima baik.

b.      Berani untuk memuji dan menghukum demi kebaikan siswanya

c.       Senantiasa bersifat kasih dan tidak pilih kasih

d.      Jika duduk harus sopan dan tunduk, tidak riya/ pamer.

e.       Tidak takabur, kecuali terhadap orang yang alim, dengan maksud mencegah tindakannya.

f.       Bersikap tawadhu’ dalam pertemuan-pertemuan

g.      Sikap dan pembicaraannya tidak main-main

h.      Menanamkan sifat bersahabat di dalam hatinya terhadap semua murid-muridnya

i.        Menyantuni serta tidak membentak-bentak orang-orang bodoh

j.        Membimbing dan mendidik murid yang bodoh dengan cara yang sebaik-baiknya

k.      Berani berkata : saya tidak tahu, terhadap masalah yang tidak dimengerti. Guru boleh tidak tahu tapi tidak boleh berkata bohong.[4]

 

 

 

BAB III
PENUTUP

 

A. Simpulan

Guru yang dirindu adalah guru yang penuh cinta kasih terhadap siswanya, sesuainya ucapan dengan tindakan dan mampu menjadi suri tauladan baik itu dalam kehidupan pribadi maupun kehidupan di masyarakat. Guru bisa mendapatkan kewibawaan melalui pembawaan yang serius tapi tetap ramah dan murah senyum dan harus menjauhi dari kesan galak atau kejam sehingga murid menggugu karena takut. Jika seorang guru telah menjadi seorang guru yang dirindukan oleh siswanya, insya Allah dia pasti akan di gugu dan ditiru.

 

B. Saran

Kebanyakan guru mengetahui mengenai teori-teori sikap dan kepribadian yang baik serta etika seorang guru. Tapi kebanyakan dari mereka akan mengabaikan segala yang mereka ketahui ketika mereka sudah diangkat menjadi PNS. Teori-teori tersebut hanya digunakan pada saat KKN atau PPL semata untuk mendapatkan nilai yang baik dari dosen. Sedangkan setelah itu semua, tidak ada aplikasi terhadap teori-teori tersebut. Seharusnya dibentuk badan pengawas guru yang mengecek kinerja guru. Sehingga guru dapat diawasi. Fungsi sertifikasi yang sekarang sedang diusung juga harus dipertanyakan. Karena bisa saja setelah proses sertifikasi semua kegiatan yang dilakukan untuk mencapai kelulusan sertifikasi dilupakan dan tidak dilaksanakan.

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Abuddin Nata,. 2001.  Perspektif Islam Tentang Pola Hubungan Guru-Murid (Studi Pemikiran Tasawuf Al-Ghazali). Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Bahri Djamarah,  Syaiful dan Zain,Aswan. 1997. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Rineka Cipta.

Tamrin¸Dahlan. 1988. Al-Ghazali dan Pemikiran Pendidikannya. Malang

Al-Jumbulati, Ali dan Futuh At-Tuwaanisi, Abdul. 1994. Perbandingan Pendidikan Islam. Jakarta: Rineka Cipta

 

 

.

 

 

 

 

 

 

 

 

LAMPIRAN

 

KODE ETIK GURU INDONESIA

PEMBUKAAN

Dengan rahmat Tuhan yang Maha Esa guru Indonesia menyadari bahwa jabatan guru adalah suatu profesi yang terhormat dan mulia. Guru mengabdikan diri dan berbakti untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kualitas manusia indonesia yang bermain, bertakwa dan berakhlak mulia serta mengusai ilmu pengetahuan, teknologi dan seni dalam mewujudkan masyarakat yang maju, adil,makmur, dan beradap.

Guru Indonesia selalu tampil secara profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan. Melatih menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Guru Indonesia memiliki kehandalan yang tinggi sebagai sumber daya utama untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional yaitu berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.

Guru indonesia adalah insan yang layak ditiru dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, khususnya oleh peserta didik yang dalam melaksanakan tugas berpegang teguh pada prinsip “ing ngarso sung tulodho, ing madya mangun karso, tut wuri handayani”. Dalam usaha mewujudkan prinsip-prinsip tersebut guru indonesia ketika menjalankan tugas-tugas profesional sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi.

Guru indonesia bertanggung jawab mengatarkan siswanya untuk mencapai kedewasaan sebagai calon pemimpin bangsa pada semua bidang kehidupan. Untuk itu, pihak-pihak yang berkepentingan selayaknya tidak mengabaikan peranan guru dan profesinya, agar bangsa dan negara dapat tumbuh sejajar dengan bangsa lain di negara maju, baik pada masa sekarang maupun masa yang akan datang. Kondisi seperti itu bisa mengisyaratkan bahwa guru dan profesinya merupakan komponen kehidupan yang dibutuhkan oleh bangsa dan negara ini sepanjang zaman. Hanya dengan tugas pelaksanaan tugas guru secara profesional hal itu dapat diwujudkan eksitensi bangsa dan negara yang bermakna, terhormat dan dihormati dalam pergaulan antar bangsa-bangsa di dunia ini.

Peranan guru semakin penting dalam era global. Hanya melalui bimbingan guru yang profesional, setiap siswa dapat menjadi sumber daya manusia yang berkualitas, kompetetif dan produktif sebagai aset nasional dalam menghadapi persaingan yang makin ketat dan berat sekarang dan dimasa datang.

Dalam melaksanakan tugas profesinya guru indonesia menyadari sepenuhnya bahwa perlu ditetapkan Kode Etik Guru Indonesia sebagai pedoman bersikap dan berperilaku yang mengejewantah dalam bentuk nilai-nilai moral dan etika dalam jabatan guru sebagai pendidik putera-puteri bangsa.

 

Bagian Satu

Pengertian, tujuan, dan Fungsi

Pasal 1

1.      Kode Etik Guru Indonesia adalah norma dan asas yang disepakati dan diterima oleh guru-guru Indonesia. Sebagai pedoman sikap dan perilaku dalam melaksanakan tugas profesi sebagai pendidik, anggota maasyarakat dan warga negara.

2.      Pedoman sikap dan perilaku sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) pasal ini adalah nilai-nilai moral yang membedakan perilaku guru yang baik dan buruk, yang boleh dan tidak boleh dilaksanakan selama menunaikan tugas-tugas profesionalnya untuk mendidik, mengajar,membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik, serta sikap pergaulan sehari-hari di dalam dan luar sekolah.

 

Pasal 2

1.      Kode Etik Guru Indonesia merupakan pedoman sikap dan perilaku bertujuan menempatkan guru sebagai profesi terhormat, mulia, dan bermartabat yang dilindungi undang-undang.

2.      Kode Etik Guru Indonesia berfungsi sebagai seperangkat prinsip dan norma moral yang melandasi pelaksanaan tugas dan layanan profesional guru dalam hubungannya dengan peserta didik, orangtua/wali siswa, sekolah dan rekan seprofesi, organisasi profesi, dan pemerintah sesuai dengan nilai-nilai agama, pendidikan, sosial, etika dan kemanusi

Bagian Dua

Sumpah/Janji Guru Indonesia

Pasal 3

1.      Setiap guru mengucapkan sumpah/janji guru Indonesia sebagai wujud pemahaman, penerimaan, penghormatan, dan kesediaan untuk mematuhi nilai-nilai moral yang termuat di dalam Kode Etik Guru Indonesia sebagai pedoman bersikap dan berperilaku, baik di sekolah maupun di lingkungan masyarakat.

2.      Sumpah/janji guru Indonesia diucapkan di hadapan pengurus organisasi profesi guru dan pejabat yang berwenang di wilayah kerja masing-masing.

3.      Setiap pengambilan sumpah/janji guru Indonesia dihadiri oleh penyelenggara satuan pendidikan.

 

Pasal 4

1.      Naskah sumpah/janji guru Indonesia dilampirkan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari Kode Etik Guru Indonesia.

2.      Pengambilan sumpah/janji guru Indonesia dapat dilaksanakan secara perorangan atau kelompok sebelumnya melaksanakan tugas.

 

Bagian Tiga

Nilai-nilai Dasar dan Nilai-nilai Operasional

Pasal 5

Kode Etik Guru Indonesia bersumber dari :

1.      Nilai-nilai agama dan Pancasila

2.      Nilai-nilai kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional.

3.      Nilai-nilai jati diri, harkat dan martabat manusia yang meliputi perkembangan kesehatan jasmaniah, emosional, intelektual, sosial, dan spiritual,

Pasal 6

1.      Hubungan Guru dengan Peserta Didik:

a.     Guru berperilaku secara profesional dalam melaksanakan tuga didik, mengajar, membimbing, mengarahkan,melatih,menilai, dan mengevaluasi proses dan hasil pembelajaran.

b.     Guru membimbing peserta didik untuk memahami, menghayati dan mengamalkan hak-hak dan kewajiban sebagai individu, warga sekolah, dan anggota masyarakat

c.     Guru mengetahui bahwa setiap peserta didik memiliki karakteristik secara individual dan masing-masingnya berhak atas layanan pembelajaran.

d.    Guru menghimpun informasi tentang peserta didik dan menggunakannya untuk kepentingan proses kependidikan.

e.     Guru secara perseorangan atau bersama-sama secara terus-menerus berusaha menciptakan, memelihara, dan mengembangkan suasana sekolah yang menyenangkan sebagai lingkungan belajar yang efektif dan efisien bagi peserta didik.

f.      Guru menjalin hubungan dengan peserta didik yang dilandasi rasa kasih sayang dan menghindarkan diri dari tindak kekerasan fisik yang di luar batas kaidah pendidikan.

g.     Guru berusaha secara manusiawi untuk mencegah setiap gangguan yang dapat mempengaruhi perkembangan negatif bagi peserta didik.

h.     Guru secara langsung mencurahkan usaha-usaha profesionalnya untuk membantu peserta didik dalam mengembangkan keseluruhan kepribadiannya, termasuk kemampuannya untuk berkarya.

i.       Guru menjunjung tinggi harga diri, integritas, dan tidak sekali-kali merendahkan martabat peserta didiknya.

j.       Guru bertindak dan memandang semua tindakan peserta didiknya secara adil.

k.     Guru berperilaku taat asas kepada hukum dan menjunjung tinggi kebutuhan dan hak-hak peserta didiknya.

l.       Guru terpanggil hati nurani dan moralnya untuk secara tekun dan penuh perhatian bagi pertumbuhan dan perkembangan peserta didiknya.

m.   Guru membuat usaha-usaha yang rasional untuk melindungi peserta didiknya dari kondisi-kondisi yang menghambat proses belajar, menimbulkan gangguan kesehatan, dan keamanan.

n.     Guru tidak boleh membuka rahasia pribadi serta didiknya untuk alasan-alasan yang tidak ada kaitannya dengan kepentingan pendidikan, hukum, kesehatan, dan kemanusiaan.

o.     Guru tidak boleh menggunakan hubungan dan tindakan profesionallnya kepada peserta didik dengan cara-cara yang melanggar norma sosial, kebudayaan, moral, dan agama.

p.     Guru tidak boleh menggunakan hubungan dan tindakan profesional dengan peserta didiknya untuk memperoleh keuntungan-keuntungan pribadi.

 

2.      Hubungan Guru dengan Orangtua/wali Siswa :

  1. Guru berusaha membina hubungan kerjasama yang efektif dan efisien dengan Orangtua/Wali siswa dalam melaksannakan proses pedidikan.
  2. Guru mrmberikan informasi kepada Orangtua/wali secara jujur dan objektif mengenai perkembangan peserta didik.
  3. Guru merahasiakan informasi setiap peserta didik kepada orang lain yang bukan orangtua/walinya.
  4. Guru memotivasi orangtua/wali siswa untuk beradaptasi dan berpatisipasi dalam memajukan dan meningkatkan kualitas pendidikan.
  5. Guru berkomunikasi secara baik dengan orangtua/wali siswa mengenai kondisi dan kemajuan peserta didik dan proses kependidikan pada umumnya.
  6. Guru menjunjunng tinggi hak orangtua/wali siswa untuk berkonsultasin dengannya berkaitan dengan kesejahteraan kemajuan, dan cita-cita anak atau anak-anak akan pendidikan.
  7. Guru tidak boleh melakukan hubungan dan tindakan profesional dengan orangtua/wali siswa untuk memperoleh keuntungna-keuntungan pribadi.

 

3.       Hubungan Guru dengan Masyarakat :

  1. Guru menjalin komunikasi dan kerjasama yang harmonis, efektif dan efisien dengan masyarakat untuk memajukan dan mengembangkan pendidikan.
  2. Guru mengakomodasikan aspirasi masyarakat dalam mengembnagkan dan meningkatkan kualitas pendidikan dan pembelajaran.
  3. Guru peka terhadap perubahan-perubahan yang terjadi dalam masyarakat
  4. Guru berkerjasama secara arif dengan masyarakat untuk meningkatkan prestise dan martabat profesinya.
  5. Guru melakukan semua usaha untuk secara bersama-sama dengan masyarakat berperan aktif dalam pendidikan dan meningkatkan kesejahteraan peserta didiknya
  6. Guru memberikan pandangan profesional, menjunjung tinggi nilai-nilai agama, hukum, moral, dan kemanusiaan dalam berhubungan dengan masyarakat.
  7. Guru tidak boleh membocorkan rahasia sejawat dan peserta didiknya kepada masyarakat.
  8. Guru tidak boleh menampilkan diri secara ekslusif dalam kehidupam masyarakat.

 

4.       Hubungan Guru dengan seklolah

  1. Guru memelihara dan eningkatkan kinerja, prestasi, dan reputasi sekolah.
  2. Guru memotivasi diri dan rekan sejawat secara aktif dan kreatif dalam melaksanakan proses pendidikan.
  3. Guru menciptakan melaksanakan proses yang kondusif.
  4. Guru menciptakan suasana kekeluargaan di dalam dan luar sekolah.
  5. Guru menghormati rekan sejawat.
  6. Guru saling membimbing antarsesama rekan sejawat
  7. Guru menjunung tinggi martabat profesionalisme dan hubungan kesejawatan dengan standar dan kearifan profesional.
  8. Guru dengan berbagai cara harus membantu rekan-rekan juniornya untuk tumbuh secara profsional dan memilih jenis pelatihan yang relevan dengan tuntutan profesionalitasnya.
  9. Guru menerima otoritas kolega seniornya untuk mengekspresikan pendapat-pendapat profesionalberkaitan dengan tugas-tugas pendidikan dan pembelajaran
  10. Guru membasiskan diri pada nilai-nilai agama, moral, dan kemanusiaan dalam setiap tindakan profesional dengan sejawat.
  11. Guru memliki beban moral untuk bersama-sama dengan sejawat meningkatkan keefektifan pribadi sebagai guru dalam menjalankan tugas-tugas profesional pendidikan dan pembelajaran.
  12. Guru mengoreksi tindakan-tindakan sejawat yang menyimpang dari kaidah-kaidah agama, moral, kemanusiaan, dan martabat profesionalnya.
  13. Guru tidak boleh mengeluarkan pernyataan-pernyaan keliru berkaitan dengan kualifikasi dan kompetensi sejawat atau calon sejawat.
  14. Guru tidak boleh melakukan tindakan dan mengeluarkan pendapat yang akan merendahkan martabat pribadi dan profesional sejawatnya
  15. Guru tidak boleh mengoreksi tindakan-tindakan profesional sejawatnya atas dasar pendapat siswa atau masyarakat yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarnya.
  16. Guru tidak boleh membuka rahasia pribadi sejawat kecuali untuk pertimbangan-pertimbangan yang dapat dilegalkan secara hukum.
  17. Guru tidak boleh menciptakan kondisi atau bertindak yang langsung atau tidak langsung akan memunculkan konflik dengan sejawat.

 

5.       Hubungan Guru dengan Profesi :

  1. Guru menjunjung tinggi jabatan guru sebagai sebuah profesi
  2. Guru berusaha mengembangkan dan memajukan disiplin ilmu pendidikan dan bidang studi yang diajarkan
  3. Guru terus menerus meningkatkan kompetensinya
  4. Guru menjunjung tinggi tindakan dan pertimbangan pribadi dalam menjalankan tugas-tugas profesionalnya dan bertanggungjawab atas konsekuensiinya.
  5. Guru menerima tugas-tugas sebagai suatu bentuk tanggungjawab, inisiatif individual, dan integritas dalam tindkan-tindakan profesional lainnya.
  6. Guru tidak boleh melakukan tindakan dan mengeluarkan pendapat yang akan merendahkan martabat profesionalnya.
  7. Guru tidak boleh menerima janji, pemberian dan pujian yang dapat mempengaruhi keputusan atau tindakan-tindakan proesionalnya
  8. Guru tidak boleh mengeluarkan pendapat dengan maksud menghindari tugas-tugas dan tanggungjawab yang muncul akibat kebijakan baru di bidang pendidikan dan pembelajaran.

 

6.   Hubungan guru dengan Organisasi Profesinya :

a.       Guru menjadi anggota aorganisasi profesi guru dan berperan serta secara aktif dalam melaksanakan program-program organisasi bagi kepentingan kependidikan.

b.       Guru memantapkan dan memajukan organisasi profesi guru yang memberikan manfaat bagi kepentingan kependidikan

c.       Guru aktif mengembangkan organisasi profesi guru agar menjadi pusat informasi dan komunikasi pendidikan untuk kepentingan guru dan masyarakat.

d.      Guru menjunjung tinggi tindakan dan pertimbangan pribadi dalam menjalankan tugas-tugas organisasi profesi dan bertanggungjawab atas konsekuensinya.

e.       Guru menerima tugas-tugas organisasi profesi sebagai suatu bentuk tanggungjawab, inisiatif individual, dan integritas dalam tindakan-tindakan profesional lainnya.

f.        Guru tidak boleh melakukan tindakan dan mengeluarkan pendapat yang dapat merendahkan martabat dan eksistensis organisasi profesinya.

g.       Guru tidak boleh mengeluarkan pendapat dan bersaksi palsu untuk memperoleh keuntungan pribadi dari organisasi profesinya.

h.       Guru tidak boleh menyatakan keluar dari keanggotaan sebagai organisasi profesi tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan.

 

7.  Hubungan Guru dengan Pemerintah :

a.       Guru memiliki komitmen kuat untuk melaksanakan program pembangunan bidang pendidikan sebagaimana ditetapkan dalam UUD 1945, UU Tentang Sistem Pendidikan Nasional, Undang-Undang Tentang Guru dan Dosen, dan ketentuan Perundang-Undang lainnya.

b.      Guru membantu Program pemerintah untuk mencerdaskan kehidupan berbudaya.

c.       Guru berusaha menciptakan, memeliharadan meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara berdasarkan pancasila dan UUD1945.

d.      Guru tidak boleh menghindari kewajiban yang dibebankan oleh pemerintah atau satuan pendidikan untuk kemajuan pendidikan dan pembelajaran.

e.       Guru tidak boleh melakukan tindakan pribadi atau kedinasan yang berakibat pada kerugian negara.

Bagian Empat

Pelaksanaan , Pelanggaran, dan sanksi

Pasal 7

1.      Guru dan organisasi profesi guru bertanggungjawab atas pelaksanaan Kude Etik Guru Indonesia.

2.      Guru dan organisasi guru berkewajiban mensosialisasikan Kode Etik Guru Indonesia kepada rekan sejawat Penyelenggara pendidikan, masyarakat dan pemerintah.

Pasal 8

1.      Pelanggaran adalah perilaku menyimpang dan atau tidak melaksanakan Kode Etik Guru Indonesia dan ketentuan perundangan yang berlaku yang berkaitan dengan protes guru.

2.      Guru yang melanggar Kode Etik Guru Indonesia dikenakan sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan yang berlaku.

3.      Jenis pelanggaran meliputi pelanggaran ringan sedang dan berat.

Pasal 9

1.      Pemberian rekomendasi sanksi terhadap guru yang melakukan pelanggaran terhadap Kode Etik Guru Indonesia merupakan wewenang Dewan Kehormatan Guru Indonesia.

2.      Pemberian sanksi oleh Dewan Kehormatan Guru Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus objektif

3.      Rekomendasi Dewan Kehormatan Guru Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib dilaksanakan oleh organisasi profesi guru.

4.      Sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) merupakan upaya pembinaan kepada guru yang melakukan pelanggaran dan untuk menjaga harkat dan martabat profesi guru.

5.      Siapapun yang mengetahui telah terjadi pelanggaran Kode Etik Guru Indonesia wajib melapor kepada Dewan Kehormatan Guru Indonesia, organisasi profesi guru, atau pejabat yang berwenang.

6.      Setiap pelanggaran dapat melakukan pembelaan diri dengan/atau tanpa bantuan organisasi profesi guru dan/atau penasehat hukum sesuai dengan jenis pelanggaran yang dilakukan dihadapan Dewan Kehormatan Guru Indonesia.

Bagian Lima

Ketentuan Tambahan

Pasal 10

Tenaga kerja asing yang dipekerjakan sebagai guru pada satuan pendidikan di Indonesia wajib mematuhi Kode Etik Guru Indonesia dan peraturan perundang-undangan.

Bagian Enam

Penutup

Pasal 11

1.      Setiap guru secara sungguh-sungguh menghayati,mengamalkan serta menjunjung tinggi Kode Etik Guru Indonesia.

2.      Guru yang belum menjadi anggota organisasi profesi guru harus memilih organisasi profesi guru yang pembentukannya sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

3.      Dewan Kehormatan Guru Indonesia menetapkan sanksi kepada guru yang telah secara nyata melanggar Kode Etik Guru Indonesia.

 

 

 


[1]Abuddin Nata, Perspektif Islam Tentang Pola Hubungan Guru-Murid (Studi Pemikiran Tasawuf Al-Ghazali),(Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2001), hal.41.

[2] Al-Jumbulati, Ali dan Futuh At-Tuwaanisi, Abdul.. Perbandingan Pendidikan Islam. (Jakarta: Rineka Cipta 1994), hal 122.

 

[3] Bahri Djamarah,  Syaiful dan Zain,Aswan. Strategi Belajar Mengajar. (Jakarta : Rineka Cipta 1997 ),hal 33

 

[4] Tamrin¸Dahlan. Al-Ghazali dan Pemikiran Pendidikannya.(Malang 1988 ), hal 51